Temperatur Memanas, Bahkan Saling Klaim

Lucy Kurniasari

Surabaya, portalnasional.co – Jelang Musyawarah Cabang (Miuscab) Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi (DPC PD) Surabaya, temperatur politik mulai memanas.

Nama-nama kandidat calon ketua DPC PD Surabaya mulai bermunculan, Lucy Kurniasari Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPC PD Surabaya kembali akan bertarung guna merebutkan posisi sebagai ketua. Nama yang bakal meramaikan merebutkan kursi panas adalah Herlina Harsono Nyono.

Baik Lucy maupun Herlina sama-sama saling klaim dukungan mayoritas. Herlina mendapat dukungan suara sebanyak 21 Dewan Partai Anak Cabang (DPAC) dan Lucy mendapat dukungan suara sebanyak 29 DPAC.

“Jadi DPC PD telah mengantongi legalitas dari 29 DPAC yang masih solid memberikan dukungan kepada Lucy Kurniasari,” kata Junaedi Sekretaris DPC Demokrat Surabaya beberapa waktu lalu.

Herlina Harsono Nyoto

“Yang jelas surat dukungan secara tertulis dan legal telah mengikat kesepakatan dilakukan kedua belah pihak,” ungkap Jun. “Jadi tidak bisa tiba-tiba beralih pencalonan dilakukan secara sepihak,” terangnya.

Ekspetasi Lucy sedikit terganggu dengan adanya isu 13 DPAC menyeberang ke kendidat lain. Hal itu membuat Lucy meleyangkan somasi pada 13 DPAC .

Fahrul Muzaqqi Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menilai perebutan simpati di tingkat bawah merupakan hal yang biasa. “Persaingan itu tidak lepas dari konteks konsolidasi Partai Demokrat menuju 2024,” kata Fahrul.

“Jadi bisa dipahami, seandainya memang ada langkah-langkah yang kalau dilihat dari luar ini terkadang sangat dinamis sekali, ya,” tambahnya.

“Seperti Lucy yang awalnya didukung oleh 29 DPAC, ternyata dalam perkembangannya bisa secara dramatis bisa beralih ke pesaingnya, Herlina,” paparnya.

Masih kata Fahrul, isu somasi terhadap 13 DPAC yang menyeberang dan konsekuensinya ialah membuat citra Demokrat kurang baik didengar di luar.

“Tapi itulah, penampilannya politik seperti itu, jadi segala sesuatunya tidak bisa dipermanenkan, tidak bisa diputuskan di bawa ke notaris misalkan, itu tidak bisa seperti itu,” terangnya.

Fahrul melihat dari sudut pandang kacamata politik, langkah yang diambil Lucy dengan membuat perjanjian kesepakatan dukungan ke notaris adalah satu langkah yang kurang tepat.

“Mungkin Bu Lucy merasa dicurangi gitu, ya, tapi dibalik itu rasanya politik praktis, ya, memang seperti itu, artinya, di sini mungkin antisipasi atau langkah-langkah yang dilakukan Bu Lucy ini, saya melihat kurang matang sehingga dukungannya bisa berpindah ke kompetitornya,” jelasnya.

“Namanya pilihan politik, itu hak warga negara, tidak bisa kemudian dibatasi hanya untuk kepentingan posisi, memang ada plus minusnya di situ saya melihat,” pungkasnya.