Jangan Ditutupi, Dan Drama Harus Diakhiri

Dedy Prasetyo

Dedy Prasetyo

Surabaya – Permasalahan yang terus berkembang terkait perusakan tanaman hias di area Car Free Day (CFD) milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

PT Unilever selaku pembikin acara makan es krim gratis menjadi kunci pada inti persoalan yang merembet pada penyimpangan anggaran yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Surabaya.

“Saya pikir hadir, jadi begini PT Unilever kemarin sudah konfirmasi bahwa undangan terlalu mendadak,” kata Dedy Prasetyo anggota Komsi C bidang Pembangunan (Pemb) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya.

“Dan kedepan mereka menyatakan akan hadir kalau tidak mendadak, jadi itikad baik Unilever dalam memberikan konfirmasi saya pikir itu sudah baik,” tambahnya.

“Supaya ini jelas dan tidak menjadikan pertanyaan di masyarakat, apa benar Unilever diperas, kalau memang diperas, diperas oleh siapa,” tanya Dedy.

“Dan apa itu betul tidak ada ijinnya, dan apa betul PT Unilever sudah memberikan dana Rp (rupiah) 1,2 miliar, ini semua biar transparan,” ungkapnya.

“Karena apa, ini semua berawal dari sebuah adegan drama dari bu wali yang marah-marah, saya katakan ini drama kenapa,” paparnya.

“Jadi pernyataan yang keluar dari Kepala Daerah (Kepda) adalah sebuah keputusan, walaupun itu tidak tertulis, dan apalagi katanya sudah masuk dalam gugatan, itu harus ada putusan hukumnya,” paparnya.

Dedy menambahkan, Kalau PT Unilever ini sebuah perusahaan profesional sudah internasional bahkan meminta tidak ada yang ditutupi.

“Untuk apa ditutupi, jadi programnya itu bukan dengan bu Walikota tetapi dengan Pemkot Surabaya, dan drama ini harus diakhiri,” pungkasnya.