KS Di Intimidasi Bahkan Akan Di Pecat

bakSurabaya – Aniek Handajani mantan Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (KS SMPN) 31 mendatangi gedung dewan. Di hadapan anggota Komisi D bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya Aniek mengaku kerap mendapat intimidasi lantaran diduga tidak masuk selama 30 hari.

“Saya pastikan apa yang dituduhkan kepada saya itu tidak benar,” kata Aniek Handajani.

Aniek mengungkapkan, alasan dirinya mengundurkan dari jabatan KS SMPN 31 tanggal 31/08/2013 karena sudah tidak kuat dengan intimidasi yang ia terima. Bahkan setiap hari selalu ada oknum-oknum pihak sekolah yang mencari kesalahannya.

Puncaknya, pada bulan 09/2013 ia didatangi oleh pejabat dari Inspektorat dan Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD). Dari informasi yang diberikan Sunarno Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) SMPN 31, petugas yang datang berjumlah 3 orang.

“Dari tanggal 01/08 hingga 31/08/2013 saya masuk terus, memang saya pernah tidak masuk, itupun karena mengikuti sosialisasi kurikulum, saya ini berapa sih gajinya, dari pada menjadi KS tapi kesalahan saya terus dicari-cari dan diancam dipecat tidak hormat, lebih baik saya mengundurkan diri saja,” ungkapnya.

Masih kata Aniek, mengaku tidak terima jika disebutkan selalu datang ke sekolah pada siang hari. Hal itu bisa dibuktikan dengan bertanya langsung kepada masyarakat sekitar. Tidak hanya itu, juga tidak tidak terima jika dituding melakukan pelanggaran berat. Sebab selama menjadi KS dirinya selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi SMPN 31.

Menurut Aniek, sesuai dengan ketentuan pelaksanaan Peraturan Pemerintah nomor 53 tahun 2010 tentang disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS), seorang PNS dapat dianggap melakukan pelanggaran diantaranya jika menyalahgunakan wewenang.

Lalu, menjual belikan, menggadaikan menyewakan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak. Baik itu berupa dokumen atau surat surat berharga milik negara secara tidak sah dan pelanggaran itu berdampak negatif pada pemerintah atau negara.

“Kalau saya dituduh melakukan pelanggaran itu yang mana, tolong disebutkan, dan saya menduga Zulkifli bagian Tata Usaha (TU) yang selalau mencari kesalahan agar saya dipecat,” terangnya.

Baktiono Ketua Komisi D DPRD SUrabaya minta agar bagian TU SMPN 31, dihadirkan dalam pertemuan kali ini. “Kalau rapat ini ditunda, saya khawatir keterangan yang diberikan sudah tidak¬† murni lagi, kita ingin keterangan yang seutuhnya dan tidak dibuat-buat makanya sekarang kita undang saja ke sini,” jelasnya.

Zulkifli membantah tudingan yang disampaikan Aniek Handajani. Menurutnya, datangnya Inspektorat dan BKD secara tiba-tiba pada pukul 08.00 Waktu Indonesia Barat (WIB) – 09.00 WIB sebelum kepala sekolah datang.

“Waktu itu kita ditanya dimana kepala sekolah, karena belum ada, akhirnya kita terima di ruang TU,” terangnya. Setelah itu, absen kehadiran guru diminta oleh KS dan hingga sekarang ia tidak tahu dimana keberadaanya.

“Dilihat dari absen daftar kehadiran memang 100 persen tidak masuk pada bulan 08, tapi kegiatan KS itu tidak hanya di dalam sekolah tapi juga di luar,” timpal Narno. “Yang jelas, secara administrasi bu Aniek tidak tanda tangan,” tegasnya.

iksanM Iksan Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya tidak mengaku tidak mengetahui masalah tersebut. “Kita baru tahu sekarang,” katanya.

“Pembinaan kepada KS harus ditingkatkan, jika KS dan TU sudah tidak sejalan, bagaimana mau memikirkan kemajuan sekolah,” pungkas Masduki Toha anggota Komisi D.