Komisi C Berbalik Arah

Sachiroul Alim Anwar

Sachiroul Alim Anwar

Surabaya – Sikap anggota komisi C bidang Pembangunan (Pemb) Legislatif Surabaya terkesan tidak konsisten, yang awalnya tidak setujuh terkait rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membangun angkutan massa cepat atau yang biasa disebut Mass Rappit Transportasion (MRT) sulit terealisasi karena biayanya Rp (rupiah) 10 triliun.

Sachiroel Alim Anwar Ketua Komisi C DPRD Surabaya, yang selama ini komisi dikenal kritis terhadap rencana pengadaan monorel dan trem tersebut namun sekarang terkesan melunak dan menyetujui apa yang menjadi rencana Pemkot sangat merugikan masyarakat marginal.

Alim meminta agar semua izin videotron di Surabaya tidak diperpanjang, selanjutnya materinya diganti dengan visualisasi rencana pembangunan MRT yang digagas Pemkot dan diantaranya telah dipasang di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS).

“Kalau itu maunya Pemkot dan itu dianggap baik oleh Pemkot, kenapa tidak, kita dukung saja program itu demi kemajuan Surabaya,” tambahnya.

“Karena apa, suatu saat Surabaya akan seperti Jakarta dan kota-kota besar lain, penduduknya padat, kendaraan pribadi semakin banyak, maka satu-satunya jalan yang pengadaan moda transportasi massal itu,” terang Alim.

Masih kata Alim, tidak hanya program monorel dan trem yang dipasang di videotron tersebut. Tapi, kalau bisa semua program yang dimiliki Dinas Perhubungan (Dishub) dan Pemkot Surabaya juga ditampilkan di videotron, sehingga dapat dilihat masyarakat secara langsung dan terbuka.

Alim mengatakan, keputusan dinas perhubungan menampilkan visualisasi rencana pembangunan MRT lewat videotron seperti di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS) patut diacungi jempol.

Sebab lewat mekanisme itu, masyarakat akan tahu dengan sendirinya moda transportasi masa yang akan dibangun pemkot ke depan.

“Kalau Dishub tidak berani ngomong, saya nanti yang akan maju untuk berbicara dihadapan media, pertanyaannya berani tidak Dishub merealisasikan?,” ujarnya.

Pernyataan Ketua Komisi C ini, bertolak belakang dengan beberapa anggotanya waktu lalu dimana kalangan anggota komisi C menolak pembangunan monorel jika tarifnya sangat mahal serta anggarannya dari APBD.

“Proyeksi mono rel dan trem dimaksudkan untuk mengurangi jumlah kendaraan di jalan karena rakyat akan memilih transportasi masal, kalau tarifnya sangat tinggi mana mau rakyat, harus dipikirkan sebelum semuanya jadi mubazir,” terang Reny Astuti anggota Komisi C.

“Seharusnya terlebih dahulu ada evaluasi dari 3 rencana pembangunan jalur ring road sebelum ditentukan penambahan moda transportasi baru, dengan adanya evaluasi 3 jalur ini akan terlihat sejauh mana kemacetan bisa diurai sementara ini,” ujarnya.

“Padahal masih ada setidaknya tiga proyek jalur tranprtasi yang sampai saat ini belum diketahui hasilnya, padahal tujuan pembangunannya sama yaitu untuk mengurai kemacetan,” tandasnya.

“Salah satunya beberapa titik sekolah dan pasar menjadi penyebab kemacetan pada jam-jam tertentu, hal seperti ini juga harus dikaji sebagai penyebab kemacetan,” pungkasnya.