Aktivis Peduli Lingkungan di Magelang Ditangkap Polisi dengan Semena-Mena dan Tidak Profesional

    Para Komandan Laskar GPK Aliansi Tepi Barat Saat Mendiskusikan Permasalahan Yg Terjadi di Kabupaten Magelang

Magelang, portal nasional – Polemik terkait pabrik pakan ternak PT Sido Agung Farm di Tempuran Magelang terus berlanjut. Awalnya polemik terjadi karena pabrik tersebut tidak segera di tutup sementara, padahal Bupati Magelang sudah mengeluarkan surat keputusan no 660.1/5590/11/2019 Tentang penghentian sementara kegiatan operasional baik yang bersifat uji coba mesin produksi maupun yang bersifat komersial mulai tanggal 12 Desember 2019. Satpol PP Kabupaten Magelang sebagai pengawal peraturan daerah terkesan lambat, loyo dan takut untuk mengamankan keputusan Bupati tersebut.

Akan tetapi setelah ada info bahwa warga masyarakat yang didampingi oleh GPK Aliansi Tepi Barat Magelang akan melaksanakan aksi besar-besaran baru satpol PP _tergopoh-gopoh_ menyegel pabrik tersebut. Aksi ribuan anggota GPK Aliansi Tepi Barat datang ke DPRD Kabupaten Magelang selanjutnya menuju pabrik PT Sido Agung Farm di Tempuran.

Pada tanggal 10 Maret 2020 Satpol PP dan beberapa pihak baik TNI, POLRI  termasuk Kapolres Magelang datang langsung di lokasi. Akhirnya pada tanggal tersebut secara resmi PT Sido Agung Farm ditutup sementara atas perintah Bupati Magelang tertanggal 4 Maret 2020.

Saat ini ada polemik yang tidak kalah dahsyat dari masalah penutupan pabrik. Yaitu penangkapan aktivis peduli lingkungan yang juga anggota GPK Aliansi Tepi Barat. Mereka adalah saudara Asep Hasto Tarmungkas, Angga dan Ahmad. Ketiga orang tersebut adalah masyarakat terdampak pabrik yang ditangkap polisi pada hari Jumat tanggal 13 Maret 2020 sekitar pukul 18.30 WIB.

Mereka ditangkap dengan prosedur yang salah. Surat pemberitahuan penangkapan tidak diberikan dan tidak diketahui oleh pihak keluarga. Sehingga keluarga kebingungan dan bertanya-tanya _”siapa yang menculik mereka ini?”_. Disamping salah prosedur, aparat kepolisian tidak menggunakan etika dengan mengobrak abrik rumah saudara Angga sampai ibundanya menangis dan berteriak-teriak histeris.

Hal yang sangat fatal menurut penilaian kami adalah salah tangkap. Orang yang salah tangkap tersebut adalah saudara ahmad yang pekerjaan sehari-harinya sebagai penjual kupat tahu. Yang mana saudara Ahmad tersebut tidak tau menahu masalah insiden perkelahian yang terjadi di pabrik PT Sido Agung Farm pada tanggal 18 Desember 2019. Yang menyedihkan ternyata polisi tidak tau kalau terjadi salah tangkap. Justru polisi diberitahu oleh Gus Nurul GPK Aliansi Tepi Barat masalah salah tangkap tersebut.

Saudara Ahmad yang ditangkap dan dibawa ke Polda Jateng akhirnya dipulangkan pada hari Sabtu pada tanggal 14 Maret 2020 sekitar pukul 24.00 wib malam hari. Setelah kejadian tersebut, dari institusi POLRI tidak ada rasa bersalah dan tanpa permintaan maaf kepada pihak keluarga.

Kami dari GPK Aliansi Tepi Barat Magelang *Memprotes Keras Tindakan Yang Sangat Tidak Profesional Ini*. Surat perintah penangkapan yang ditandatangani oleh Kasatreskrim Polres Magelang AKP Hadi Handoko SH.SIK dilaksanakan dengan semena-mena dan tidak profesional .

Semoga tulisan ini sampai kepada Presiden Republik Indonesia, Kapolri, Kompolnas serta Komisi III DPR RI. Ada pelanggaran serius di wilayah hukum Polda Jateng dan Polres Magelang. Visi misi Kapolri Jenderal Idham Aziz untuk membuat POLRI Profesional, Modern dan Terpercaya dilanggar oleh anggota POLRI sendiri.

Magelang, 18 Maret 2020

*Tim Media Dan Tim Advokasi*
*GPK Aliansi Tepi Barat Magelang*